Sabtu, 16 Maret 2013

MULTIALARM & COUNTDOWN, TEKNOLOGI HP JADUL

Siemens C35i
SUTARNO. Masih ingat dalam benak saya, ini adalah waktu pertama kali saya membeli Hand Phone (HP). Tepatnya 29 Oktober 2000, satu minggu setelah saya menikah. Sesuatu yang masih sangat tersier banget saat itu. Harga selangit, perdana yang sangat mahal, jaringan masih langka, teman sesame yang sangat jarang, pulsa yang mahal dan sulit. Nasi sudah menjadi bubur, mau apalagi, mau tidak mau harus dimakan.
Kebetulan saat itu di rumah juga ada HP, walaupun harus pasang tower sendiri alias menggunakan antena. Mungkin karena masih pengantin baru, istri menyarankan untuk membeli HP, alasannya kalau terjadi sesuatu di jalan mudah menghubungi rumah, begitu alasan sang istri. Kebetulan saat itu saya harus bolak-balik ngajar sekitar 50 Km perhari (alasan yang kurang masuk akal sebenarnya saat itu, setelah saya pikir-pikir).

Setelah membeli, ada satu masukkan dari ibu mertua yang masih saya ingat, “….. Untuk apa membeli HP, uang segitu mending digunakan untuk kebutuhan lain yang lebih bermanfaat”, begitu tuturnya. Saya pikir benar adanya masukkan ibu mertua saya.

Harga HP dan Perdana yang selangit
Dari hasil searching yang saya lakukan bersama istri pada beberapa merk dengan mempertimbangankan berbagai fitur dan bentuk yang ditawarkan, pilihan saya saat itu jatuh pada Siemens C35i. Saat itu harganya lumayan  Rp. 1.250.000,-

Setelah saya banyar, maka saya minta bantuan CS-nya untuk mencoba dan menanyakan cara operasinya. Alangkah terkejutnya saya, CS mengatakan bahwa “Untuk menggunakan pesawat, bapak harus memiliki nomor sim cardnya pak ? Bapak bisa pilih akan menggunakan kartu apa ? Sayapun nanya balik, kartu apa yang paling banyak digunakan ? Rata-rata saat ini menggunakan ini pak (sambil menunjukkan si kuning). Harganya berapa mbak ? Bapak tinggal pilih mau yang pulsa berapa, untuk perdana paling murah Rp. 600.000,- dengan pulsa Rp. 200.000,- Pak ? Sontak saya seperti mendengar geledek di siang bolong. Pemikiran saya saat itu, jika kita beli HP, maka kita tinggal menggunakan dengan membayar bulanan atau pulsanya. Ehhh ternyata.
Aduhhhhhhhhhhhh. Tetapi akhirnya sayapun  harus membelinya. Sehingga total yang saya keluarkan adalah Rp. 1.750.000,-. Benar-benar fantastis pada eranya.

Jaringan dan Teman Sesama Masih Langka
Setelah membeli HP tersebut, masalah tidak hanya berhenti di situ saja. Kendala berikutnya adalah masalah sinyal (karena mungkin jaringan yang masih sangat terbatas). HP saya hanya dapat saya gunakan pada saat di kantor dan kalau pergi ke kota. Akan dijual sayang, akhirnya tetap saya pertahankan. Tidak masalah, piker saya, lama-lama pasti nanti akan menjamur dengan sendirinya.

Selain sinyal yang undlap-undlup, saya terkadang jika teringan akan tertawa sendiri. HP yang saya beli mahal-mahal tersebut hanya menyimpan 2 nomor. Satu nomor HP rumah dan satu nomor kantor sekolah. Terkadang teman-teman pada saat berkumpul sering meledek, “Lhaa … iya …. Guru aja peganggannya HP ?”, sebuah ungkapan yang menggambarkan ketidak ladziman saat itu.

Pulsa yang mahal dan sulit
Berikutnya adalah masalah pulsa. Karena saya di daerah, untuk membeli pulsa maka kita harus pergi ke kota kabupaten. Itupun baru ada satu tempat penjualnya. Dan harganyapun masih sangat mahal. Saat itu pulsa yang disediakan hanya ada pulsa gesek / kartu dengan nominal Rp. 100.000,- masa aktif satu bulan.

Seiring berkembangnya jaman, akhirnya pada awal tahun 2002 saya ganti kartu. Saya beralih dari si Kuning menjadi si Merah dengan pertimbangan jaringanannya lebih luas. Sekali lagi jaman yang berbeda, saat itu masih sangat umum menjual kartu perdana bekas. Saat itu perdana bekas saya yang si kuning masih dihargai Rp. 200.000,-.

Spesifikasi
Adapun spesifikasi HP saat itu masih sangat terbatas. Yang masih saya ingat, antara lain : General Network GSM, ukuran 118 x 46 x 21mm, beratnya 110 g, tampilan Monochrome graphic, Pixels : 101 x 54 pixels dengan  5 baris, jam, alarm, T9, Currency converter , Games 4 - Wayout, Reversi, Quattropoli, Minesweeper, Calculator , Stopwatch dan countdown.

Walaupun masih sangat sederhana, teknologi saat itu yang saat ini justru tidak adalah Siemens C35i mampu menyimpan lebih dari satu / beberapa alarm yang telah diatur waktunya oleh user. Maka kita bisa menyimpan jadual kegiatan kita dalam jumlah tertentu berdasarkan waktu yang berbeda.  Selain hal itu, saat itu telah dilengkapi dengan hitungan mundur (countdown). Luar biasa bukan ?


---------------------------------------------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------------------------------------------

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima Kasih Atas Kunjungannya