Minggu, 27 Juli 2014

INDUSTRI MENDAMBAKAN KS YANG "GILA"

SUTARNO. Kira-kira apa yang saudara lihat pada saat melihat air yang mengalir di selokan atau di sungai ? Jawabannya hanya ada dua yaitu ikan mati dan sampah. Dari kenyataan tersebut sehingga ada pepatah yang mengatakan bahwa “HANYA SAMPAH DAN IKAN BUSUK YANG MENGALIR MENGIKUTI ARUS”.
Mari kita renungkan sejenak kebenaran dari pepatah itu, bagaimana menurut saudara ? Sebuah pepatah sederhana, riil dan benar adanya serta menantang kita untuk berbuat yang lebih daripada sekedar pasrah dalam mengarungi kehidupan dan mengelola suatu kegiatan. Banyak hal yang dapat kita amati di lapangan, mengapa sebuah kegiatan ataupun pengelolaan usaha termasuk pengelolaan sekolah dengan output yang sangat biasa sekali. Begitu juga dengan pengelolan sekolah, mereka beralibi bahwa banyak aturan yang harus dijalankan yang bersifat memaksa tetapi tidak mempunyai tujuan yang pasti, sehingga sangat menekan perkembangan sekolah. Bahkan mereka beralasan bahwa aturan dalam pengelolaan sekolah tidak memihak ke bawah dsb, sehingga sekolah tidak mampu melakukan improvisasi. Di sisi lain, sebagai lembaga pendidikan pencetak lulusan pelanggan (orang tua, dunia industry, pemerintah) berharap memperoleh lulusan yang berkualitas, terampil, berkarakter dan mempunyai attitude yang memadai. Lalu siapakah yang salah ? Pemerintah, orang tua, industry ataukah kepala sekolahnya ? Jawabannya hanya satu, yaitu kepala sekolah. Lalu apa yang perlu dilakukan kepala sekolah untuk mewujudkan harapan pelanggan / stakeholder tersebut ? Ada tiga hal yang perlu dilakukan sekolah untuk mewujudkan hal itu : (1) Langkah pra pendidikan (2) Langkah proses pendidikan (3) Langkah pasca pendidikan. Dari ketiga langkah tersebut sekolah harus mampu menyelaraskan dengan kebutuhan industry. Pada kenyataannya industry secara rata-rata tidak sekedar tertarik terhadap prestasi siswa, tetapi lebih tertarik terhadap attitude dan kondisi fisik calon pencari kerja. Sebagai contoh dalam hal ini adalah lulusan sekolah-sekolah kejuruan (SMK). 

PRA PENDIDIKAN 
Ada tiga yang perlu diantisipasi sekolah dalam mempersiapkan pelaksanaan pendidikan. Salah satunya adalah masalah input atau calon peserta didik. Sebelum melakukan rekruitmen peserta didik, sekolah harus mengetahui, kira-kira kondisi yang bagaimanakah yang dikehendaki oleh industry. Dalam hal ini yang dibutuhkan oleh industry adalah masalah kesehatan ( kondisi fisik dan tinggi badan). Jika hal itu yang diharapkan oleh industry, maka sekolah harus mampu menjawab kebutuhan industry tersebut. Sekolah harus berani mematok, mana calon siswa yang bisa masuk dan tidak jika dilihat dari fisiknya. Setelah itu baru kita melihat point lain. Percuma sekolah kejuruan (SMK) mempunyai lulusan dengan nilai sempurna tetapi (maaf) hanya mempunyai tinggi badan kurang dari 165 cm. Industri lebih memilih anak yang mempunyai kondisi fisik yang diharapkan industry walaupun masalah kemampuan / skill sangat biasa sekali. Selanjutnya adalah masalah kurikulum. Seorang kepala sekoah harus berani merombak kurikulum sekolah (SMK) yang ada. Kenyataan di lapangan, sekolah tidak dilirik sama sekali oleh industry salah satunya karena hanya menitik beratkan kurikulum-kurikulum yang sangat teoritis dan berasa hambar bagi industry. Sekolah harus tahu, apa yang dibutuhkan industry. Tenaga terampil las, tenaga terampil operator, drafter 2D/3D atau yang lain. Sekolah harus berani menekan materi-materi yang tidak berhubungan dengan kebutuhan industry dan menekankan ketrampilan yang dibutuhkan industry. Sekolah kejuruan didirikan bertujuan untuk menciptakan tenaga terampil yang mampu bekerja, bukan untuk melanjutkan ke perguruan tinggi atau menganggur. Menyiapkan pendidik yang mempunyai kemampuan di bidangnya. Hal ini diperlukan agar guru benar-benar mampu membawa anak menuju ketrampilan yang diharapkan. Untuk mewujudkan hal itu, sekolah dapat melakukan melalui seleksi ataupun melalui diklat peningkatan kompetensi guru. 

PROSES PENDIDIKAN 
Seperti dijelaskan di atas, bahwa industry lebih tertari terhadap fisik dan attitude. Jika kondisi fisik telah dilakukan pada tahap penyaringan sebelumnya, maka langkah berikutnya adalah dengan melakukan penanaman soft skill dan hard skill. Dalam dunia kerja, kebutuhan industry terhadap calon tenaga kerja adalah 80% soft skill dan 20% hard skill. Dalam penanganan proses pendidikan, sekolah harus mampu menanamkan soft skill dalam diri siswa. Sedangkan mengajarkan materi kompetensi yang dibutuhkan oleh industry adalah bagian dari pembentukan hardskill. Sedangkan dari guru dan tenaga kependidikan sekolah harus mampu menekankan bahwa pendidik dan tenaga kependidikan merupakan teladan bagi siswa. Berikutnya hal yang mesti dilakukan oleh sekolah adalah "HARUS BERANI MALU" untuk "menjual diri" ke masyarakat luas guna melatih jiwa wirausaha serta menawarkan dan menyakinkan industry agar mempercayai kita untuk menjalin kerjasama termasuk dalam hal penyerapan tenaga kerja. 

PASCA PENDIDIKAN 
Salah satu hal yang yang menjadi tolok ukur keberhasilan SMK bukan berapa banyak siswa kita yang diterima di PTN, melainkan berapa banyak siswa kita yang mampu berwirausaha serta yang terserap di dunia industry. Oleh sebab itu sudah sewajarnya jika kita harus berani malu untuk melatih wirausaha serta menawarkan produk kita tersebut. Selain menawarkan ke dunia industry, tidak ada salahnya jika kita juga menjalin kerjasama dengan sekolah-sekolah lain yang terlebih dahulu telah menjalin recruitment untuk industry. Bagi beberapa pihak mungkin hal-hal semacam itu adalah hal yang biasa, sering mendengar, tetapi apakah sudah diterapkan ? Di Indonesia sepengetahuan penulis hanya ada 2 sekolah yang mempunyai kepala sekolah “gila” semacam itu. Artinya beliau berani melewati batas-batas yang telah ditentukan pemerintah dan bergerak sesuai dengan kebutuhan industry. Dari ke-2 SMK tersebut pada akhirnya menjadi tujuan industry dalam melakukan pencarian tenaga-tenaga terampil. Bahkan lebih jauh mereka tidak hanya sebatas mampu menghidupi gurunya, tetapi juga mampu menghidupi siswanya. Mengapa ? Karena mereka mampu menjalin kerjasama dengan industry sebagai bagian dari assembly dan pemasok kebutuhan-kebutuhan industry. Oleh sebab itulah sudah selayaknya jika SEKOLAH LAIN MENGAJARKAN KETRAMPILAN, KITA HARUS MEMBUAT ANAK DIDIK KITA TERAMPIL. Harapannya dengan ketrampilan itulah anak diharapkan akan mampu berwirausaha ataupun kompeten dalam bekerja. Apakah saudara berkeinginan menjadi semacam itu ?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima Kasih Atas Kunjungannya